Anglo American Cataloging Rules (AACR)

AACRBindernew

AACR 2nd (Anglo-American Cataloguing Rules) 2nd Edition merupakan perangkat dasar untuk melakukan pendeskripsian bibliografi pada suatu bahan pustaka karena di dalamnya tercantum aturan untuk pengatalogan tersebu

AACR2 (Anglo American Cataloguing Rules) Second Edition, 2002 Revision.

A. DEFINISI, CIRI-CIRI, DAN STRUKTUR PERATURAN AACR2

1. Definisi AACR2

Dalam melakukan pendeskripsian sebuah bahan pustaka baik buku maupun non buku perlu menggunakan sebuah pedoman sebagaimana yang telah disampaikan oleh Prof. Dr. Sulistyo Basuki, MA. Menurutnya “… Untuk mengatur praktik deskripsi bibliografis, digunakan pedoman. Pedoman yang (hampir) berlaku internasional adalah Anglo American Cataloguing Rules 2 (AACR2) kini menjadi AACR2 (revisi 2002 dan 2005)….” [1] Baca lebih lanjut

Iklan

J.N.B. TAIRAS TOKOH KATALOGISASI DAN KLASIFIKASI INDONESIA

J.N.B. TAIRAS TOKOH KATALOGISASI DAN KLASIFIKASI INDONESIA:  KAJIAN SINGKAT DARI SISI KEPUSTAKAWANANNYA

Oleh Jonner Hasugian

Staf Pengajar Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra USU

 

TAIRAS28052004

pic: J.N.B Tairas

Pendahuluan

Semua pustakawan yang pernah bekerja pada bagian atau unit pengatalogan dan klasifikasi (pengolahan bahan pustaka), pasti pernah membaca nama J.N.B. Tairas, karena nama itu selalu tertera pada peralatan pengatalogan (cataloguing tolls) seperti halnya Peraturan Katalogisasi Indonsia, Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan dan Klasifikasi Bahan Pustaka Tentang Indonesia Menurut DDC. Tulisan ini mencoba mengkaji dan mengungkap biografi ringkas J.N.B. Tairas khusus dari sisi kepustakawanannya. Baca lebih lanjut

Etika Infomasi dalam Konteks Digital

information-ethics-1-638

 

Etika informasi adalah kajian pertimbangan etis  yang timbul dari penyimpanan, pemrosesan, temu balik dan penggunaan informasi, sistem informasi dan teknologi informasi dan komunikasi. Etika informasi merupakan bidang kajian yang timbul dengan terjadinya konvergensi masalah etis dari disiplin tradisional seperti sistem manajamen dan informasi, ilmu perpustakaan dan informasi, terutama dengan berkembangnya sistem dan jasa informasi sambung jaring serta Internet. Misalnya privasi dan kerahasiaan (confidentiality) merupakan keprihatinan bersama  (Sulistyo, 2013).

Reitz (2004) mendefinisikan etika informasi sebagai cabang etika yang memusatkan pada hubungan antara kreasi, organisasi, diseminasi dan pengunanaan informasi serta standar etika dan ketentuan moral yang mengatur tindakan manusia dalam masyarakat. Dengan demikian  etika informasi adalah kajian pertimbangan etis yang muncul dari kegiatan penyimpanan pemrosesan, temu balik dan penggunaan informasi, sistem informasi (baca perpustakaan digital) dan teknologi informasi atau teknologi informasi dan komunikasi.Etika informasi merupakan bidang kajian yang timbul dengan konvergensi keprihatinan etika dari berbagai  disiplin tradisional seperti sistem manajemen dan informasi, ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya dengan perkembangan yang cepat dari sistem dan jasa informasi sambung jaring (online) dan Internet.  Masalah yang timbul berkaitan dengan privasi dan kerahasiaan (confidentiality)  pada bagian sirkulasi dan jasa informasi bisnis; kedua-duanya bidang itu juga menghadapi masalah bersama seperti keamanan dalam sistem  akses publik, dalam jaring, lingkungan berjejaring.

 

baca artikel selengkapnya

By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Perpustakaan, Sarana Pintar Buat Pintar

151109_FUT_library-future.jpg.CROP.promovar-mediumlarge
“perpustakaan, sarana pintar buat pintar” merupakan slogan yang telah banyak digunakan dan ditemui untuk menunjukkan tugas dan fungsi dari sebuah lembaga perpustakaan.

Perpustakaan merupakan suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu, yang mengelola bahan – bahan pustaka, baik berupa buku – buku maupun bukan non buku (Nonbook Material), yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya (Wahyu Supianto, 2008)

Perpustakaan dan Pendidikan merupakan Baca lebih lanjut

By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Tampilan dan Fungsi Bagian-bagian Halaman Google

Beberapa waktu lalu (07/05) Google telah memperbaharui tampilan halaman penelusurannya, dalam tampilan yang baru ini terlihat lebih menarik, ringkas, dan sederhana. Untuk mendapatkan pencarian yang kita inginkan dan untuk memaksimalkan penggunaan penelusuran Google tentu kita perlu memahami menu bagian-bagian dan fungsi-fungsinya.

a

Pada halaman penelusuran Google, memiliki bagian-bagian berikut :  Baca lebih lanjut

By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Tampilan dan Fungsi Bagian-bagian Website

 

website

 

Komponen Dasar sebuah website dan blog

1. Title

c

Title adalah judul atau nama dari sebuah halaman web. Letaknya di titlebar browser.

2. Nama Domain

Nama domain adalah nama alias dari sebuah website. Sebenarnya, nama asli dari setiap website itu berupa IP address yang berupa nomor acak yang unik. Nama domain disewa dari pencatat/registrar domain per tahun. Domain digunakan agar manusia mudah untuk mengingat nama sebuah website. Kadangkala nama domain juga mewakili nama sendiri, nama brand, produk maupun perusahaan. Baca lebih lanjut

By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Anatomi URL

images

protokol

http: // adalah protokol. Hal ini menunjukkan protokol browser harus menggunakan. Biasanya itu adalah protokol HTTP atau versi terjaminnya, HTTPS. Web memerlukan salah satu dari dua ini, tetapi browser juga tahu bagaimana menangani protokol lain seperti mailto: (untuk membuka mail client) atau ftp: untuk menangani transfer file, jadi jangan heran jika Anda melihat protokol tersebut.

Subdomain

Sebuah subdomain adalah sub-divisi dari nama domain utama. Sebagai contoh, mail.doepud.com dan calendar.doepud.com adalah subdomain dari nama domain doepud.com. Baca lebih lanjut

By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Mengadopsi Konsep Promosi Lembaga Profit di Perpustakaan

OLEH : ABDUL HAFIZ HARAHAP

Promosi bukan hal baru di ranah perpustakaan. Promosi sudah dilakukan bertahun-tahun silamoleh perpustakaan dalm upaya meningkatkan jumlah kunjungan dan pinjaman, serta mempromosikan layanan-layanan yanng tersedia. Akan tetapi apakah promosi yang dilakukan oleh perpustkaan hingga saat ini benar-benar promosi yang tepat dan mengikuti perkembangan?

Dari beberapa literatur yang pernah ada di Indonesia diketahui bahwa promosi yang diajarkan masih terkesan itu ke itu saja bahkwan cenderung tidak memiliki konsep yang jelas. Ketidakjelasan juga dapat dilihat dari media-media atau tools promosi yang dibuat tidak memperlhatkan target audien yang dituju. Semisal, apakah memberikan pengaruh kepada pemustaka potensial atau aktual? Kemudian, apakah media dan tools promosi sudah tepat untuk segmen pemustaka yang dituju? Beragam pertanyaan lainnya akan dapat hadir menyoali promosi perpustakaan. Karenanya, diperlukan kejelian dalam mendesain sebuah konsep promosi perpustakaan yang akan dilakukan di samping terus mengikuti perkembangan tren promosi yang senantiasa dilakukan oleh lembaga-lembaga berbasis profit seperti di retail dan mall atau yang lebih dekat dengan ranah perpustakaan sendiri yaitu di toko buku. Lantas, apakah diperkenankan perpustakaan mengadopsi konsep-konsep dari luar ranah perpustakaan sendiri? Jawabannya tentu saja sangat diperkenankan. Hal demikian berpuluh-puluh tahun bahkan seabad silam telah dilakukan oleh pustakawan-pustakawan di dunia. Sebagai contoh yang sangat karib dengan pustakawan adalah sistem klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification) yang dipublikasikan pertama kali oleh penemunya Melvil Dewey pada tahun 1876. Dewey Decimal Classification dari namanya saja sudah dapat dipastikan bahwa konsep ini diinspirasi dari cabang ilmu matematika yaitu bilangan desimal.

Baca lebih lanjut