Pelaksaan Perkawinan Adat Gayo

Gayo adalah salah satu suku yang bermukim di Aceh. Dalam masalah perkawinan, orang Gayo tidak terlepas dari keberadaan saudara, keluarga atau saudara angkat dikampung yang harus diundang. Dalam bahasa Gayo hal ini disebut dengan istilah: iyangon yang mana apabila tidak diundang hati mereka akan bertanya-tanya sendiri apa kesalahan mereka dan sudah dianggap apa diri mereka hingga tidak diundang. Oleh sebab itu keluarga dari pihak bapak dan pihak ibu harus diundang. Biasanya dari pihak keluarga ibu akan memberi seserahan yang disebut ralik.

Ralik di atas berupa beras, kelapa, gula dan sebagainya. Harus berjumlah ganjil, beras yang diberikan 5 bambu, kelapa 3 buah, gula 3 kg, yang disebut dalam tutur bahasa Gayo : pun (ralik). Dari pihak ayah, pekerjaan yang dilakukan menurut adat adalah membawa sayur, kayu bakar, membuat benten (panggung) tempat memasak dan sebaginya. Yang termasuk ke dalam keluarga dari pihak ayah adalah disebut ama kol (bapak yang paling besar), ama ngah (bapak yang paling tengah), ama encu (bapak yang paling kecil), adik bapak atau kakak bapak biasa dipanggil ibi (bibik) dan suaminya dipanggil kil (suami bibik).

Nginte (Meminang)

nginte merupakan prosedur dimana keluarga dari pihak lelaki datang ke rumah pihak perempuan untuk meminang anak perempuan mereka untuk diperistri oleh anak lelaki dari keluarga mereka. Pada saat nginte inilah terjadi perundingan yang disebut betelah. Perundingan ini membicarakan tentang mahar dan permintaan dari pihak perempuan yang harus dipenuhi.

Hari pelaksanaan perkawinan (mutangkoh buet)

Di Gayo, menurut adat istiadat hari baik dan bulan baik untuk melaksanakan pernikahan adalah hari ke-2-4-6-8-12-14-16-18-20. Dalam bulan yang berapit dengan bulan muharam, biarpun itu tanggal dan bulan yang baik tidak bisa mengadakan pesta pernikahan atau pesta apapun.

Berdasarkan hal di atas, menurut kepaercayaan mereka apabila bulan muharam berapit, pasangan yang akan menikah itu tidak akan rukun dan damai, baik dari segi perkawinan maupun dari segi membangun rumah tangga.

Berangkat ke rumah pihak perempuan (mujule mas atau mengantarkan teniron (permintaan))

Sesudah persiapan yang telah ditentukan cukup, maka saudara beserta dengan sarak opat berangkat dari rumah dengan membawa alat-alat yang sesuai perjanjian kedua belah pihak (selain emas atau mahar yang belum diserahkan karena itu hukumnya semasa acara akad nikah). Sesampainya di rumah perempuan sudah ada yang menanti keluarga ayah dan keluarga ibu beserta sarak opat untuk menyaksikan penyerahan barang-barang (teniron) kepada pihak perempuan, sesudah pihak perempuan menghidangkan pulut kuning dan secangkir kopi maka dibuka penyerahan teniron raja dari pihak laki-laki dan raja pihak perempuan dengan menggunakan tutur kata yang halus.

 

Beguru (Pemberian Nasehat)

Pada acara beguru ini dilakukan kegiatan berupa mohon doa sempena (doa restu dari sarak opat) serta kamul sudere (saudara-saudara berkumpul sepakat) untuk melakukan permusyawaratan untuk menangani sinte upacara ini.

Mujule Bayi (mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita) dan man penan/ mangan penan (menyambut pengantin di rumah pengantin pria)

Mujule bayi dan mangan penan adalah pesta resepsi yang dilakukan di rumah kedua belah pihak. Biasanya Ijab qabul pernikahan dilakukan pagi hari pada saat mujule bayi sebelum pesta resepsi dimulai. Pada dasarnya acara yang dilakukan pada keduanya adalah sama.

Adapun tahap-tahap dalam ijab qabul pernikahan dalam adat Gayo adalah

  1. Kedua belah pihak yang bersangkutan (pengantin) didudukkan di atas ampang (tikar yang dilukiskan menggunakan benang warna-warni untuk orang yang akan menikah)
  2. Keduanya diselimuti dengan upuh jerak (kedua yang bersangkutan dikenakan kain adat). Dilanjutkan dengan nasehat, petuah, serta langsung diresmikan keduanya menjadi suami-istri. Hal-hal ini dilaksanan oleh sarak opat atau sesepuh kampung itu. Keduanya menerima percikan tawar dingin (pesejuk), serta menerima jujung (beras uang yang disiramkan kebagian tubuh).
  3. Memperkenalkan saudara-saudara dari masing-masing pihak sekaligus mamberi tahu kaitan tutur (sistem kekerabatan).
  4. Keduanya bersalaman kepada keluarga dan kerabat yang hadir, malah ada yang saling berangkul, menyampaikan rasa harunya.
  5. Amanat dari sarak opat, ditujukan kepada yang bersangkutan sekaligus juga untuk semua yan hadir dari kedua belah pihak
  6. Pembacaan doa oleh seorang tengku, serta diikuti bersama-sama
  7. Tari guel untuk menyambut kedatangan pengantin
  8. Makan bersama sambil beramah tamah dan merapatkan silaturahmi
  9. Sejak dari detik ini, terjadilah hubungan saudara dari kedua belah pihak,. Menurut kelaziman dalam waktu yang relative singkat, juga akan dilaksanakan kenduri balasan, tanda syukur memperoleh keselamatan serta memperoleh saudara baru. Kenduri ini biasanya tidaklah semeriah seperti kenduri yang telah dijelaskan di atas. Kenduri adalah sekedar berdamping, kenduri resmi. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan apabila juga dilakukan kenduri besar.
Iklan
By kerajaan perpustakaan Posted in tugas Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s