Kompetensi Pustakawan di Era Digital

KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI OLEH PUSTAKAWAN DI ERA DIGITAL

 

Pustakawan perlu memiliki kemampuan khusus. Pertemuan dewan direktur Special Libraries Association (SLA) dalam sidang tahunan 1996 membahas laporan tentang kompetensi yang perlu dimiliki pustakawan khusus memasuki abad 21. Ada dua jenis kompetensi yang dimaksudkan oleh SLA yaitu kompetensi profesional, dan kompetensi personal. Yang dimaksud dengan kompetensi profesional menyangkut pengetahuan yang dimiliki pustakawan khusus dalam bidang sumberdaya informasi, akses informasi, teknologi, manajemen dan riset, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan sebagai basis dalam membenikan layanan perpustakaan dan informasi. Sedang kompetensi personal adalah ketrampilan atau keahlian, sikap dan nilai yang memungkinkan pustakawan bekerja secara efisien, menjadi komunikator yang baik, selalu mempunyai semangat untuk terus beiajar sepanjang karirnya. dapat mendemonstrasikan nilai tambah atas karyanya, dan selalu dapat bertahan dalam dunia kerja yang baru.

Selanjutnya kompetensi profesional mensvaratkan pustakawan hendaknya:

  • mempunyai pengetahuan atas isi sumberdaya informasi, termasuk kemampuan mengevaluasinya secara kritis. apabila perlu dilakukan penyaringan
  • memiliki pengetahuan subyek khusus yang cocok dan diperlukan oleh organisasi induk atau pengguna jasa.
  • mengembangkan dan mengelola jasa informasi yang nyaman, mudah diakses dan berbiaya murah (cost effective) sejalan dengan arahan stratregis organisasi.
  • menyediakan pedoman dan dukungan untuk pengguna jasa
  • mengkaji kebutuhan informasi dan nilai tambah jasa informasi dan produk yang memenuhi kebutuhan.
  • menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorganisasikan dan memencarkan informasi.
  • menghasilkan produk informasi khusus untuk digunakan di dalam maupun di luar organlsasi. atau oleh pengguna perorangan. mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan riset yang berhubungan dengan permasalahan manajemen informasi.
  • secara terus-menerus meningkatkan iasa informasi umum menjawab tantangan dan perkembangan.
  • merupakan anggota dan tim manajemen senior atau konsultan bagi organisasi tentang issue informasi.

Sedang kompetensi personal menuntut pustakawan untuk dapat:

  • melakukan layanan prima.
  • mencar tantangan dan melihat peluang baru baik di dalam maupun di
  • luan perpustakaan.
  • melihat dengan wawasan yang luas
  • mencari mitra kerja.
  • menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan mempercayai.
  • memiliki ketrampilan berkomunikasi.
  • bekerja baik dengan sesama anggota tim.
  • membenikan kepemimpinan.
  • merencanakan, membuat prioritas dan fokus pada hal-hal yang kritis.
  • setia dalam belajar sepanjang hidup dan perencanaan karier pribadi.
  • memiliki ketrampilan bisnis dan menciptakan peluang baru.
  • mengakui nilai profesional kerjasama dan kesetiakawanan uwes dan bersikap positif dalam masa yang selalu berubah.

Menurut Shapiro dan Hughes (1996) yang dikutip oleh Pendit (2007) mensyaratkan 7 (tujuh) kemampuan yang harus dimiliki pustakawan dalam era digitalisasi yaitu:

  1. Tool literacy, yaitu kemampuan memahami dan menggunakan alat teknologi informasi, baik secara konseptual maupun praktikal, keterampilan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras, multimedia, dsbnya.
  2. Resource literacy, yaitu kemampuan memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan informasi terutama dari jaringan informasi yang selalu berkembang.
  3. Social-structural literacy, pemahaman yang benar bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak dalam masyarakat.
  4. Reserach literacy, kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset
  5. Publishing literacy, kemampuan menerbitkan informasi dan ide ilmiah pada kalagan luas dengan memanfaatkan komputer dan internet
  6. Emerging technology literacy, kemampuan terus menerus menyesuikan diri dengan perkembangan teknologi dan bersama komunitasnya menentukan arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.
  7. Critical literacy, kemamuan mengevaluasi sercara kritis terhadap untung ruginya menggunakan teknologi telematikan dalam kegiatan ilmiah.

Sedangkan Stueart dan Moran (2002) mengatakan bahwa manajer informasi atau pustakawan dalam era informasi seharusnya memiliki 7 (tujuh) kemampuan juga yaitu:

  1. Technical skill, yaitu seorang manajer harus mamahami proses pekerjaan yang dilakukan bawahan. Adalah tidak mungkin mensupervisi, apabila tidak memahami seluk beluk pekerjaan yang disupervsi tsb.
  2. Political skill, seorang manajer harus mamahami masalah sosial, lingkungan organisasi internal dan ekternal, memiliki wawasan luas.
  3. Analytical Skills, seorang manajer harus memiliki kemampuan analisis yang baik sehingga dapat menjadi bagian dari agen perubahan.
  4. Problem-solving skills, seorang manajer harus memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan cepat, tepat dan baik.
  5. People skills, seorang manajer harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, termasuk komnikasi interpersonal, memahami dan peduli orang lain.
  6. System skills, seorang manajer harus memiliki kemampuan bekerja dalam sistem dan menggunakan berbagai sistem jaringan dan komunikasi yang tersedia.
  7. Business skill, seorang manajer harus memiliki naluri bisnis dan semangat interprenurship yang baik.. Koleksi yang ada merupakan aset yang harus dimanfaatkan maksimal

Selain Kemampuan di atas, pustakawan juga perlu menerapkan soft skills, yang mencakup:

  1. Communication skills terdiri dari:
  • Kemampuan berkomunikasi (communication skills), yaitu seorang pustakawan harus mampu berkomunikasi secara efektif dan bisa mempengaruhi orang lai Mampu memberikan presentasi dengan jelas, komunikasi tertulis, dengan ejaan, struktur dan isi yang jelas. Berkomunikasi dengan interaktif dan mampu memberikan pandangan dari beragam perspektif.
  • Listening skills,Kemampuan mendengar. Mampu mendengarkan dan mendiskusikan pendapat orang lain dari beragam sudut pandang dan bisa mendapat ide dari pendapat orang lain, serta mampu memberikan komentar yang konstruktif.
  • Mampu memberikan feedback yang baik bagi beragam situasi yang dihadapi orang lain
  • Conflict resolution; Mampu mengatasi konflik dengan memberikan respon yang tepat dalam berbagai situasi. Bisa memberikan alasan jika tidak setuju terhadap sesuatu, memahami posisi dan kepentingan dalam sebuah konflik dan bisa menghasilkan win­ win solutions.
  • Relationship building; Menggunakan mekanisme formal dan informal dalam menjaga hubungan baik dengan sesama staff maupun pemakai perpustakaan.
  • Self­initiatif, yaitu memiliki inisiatif tanpa harus disuruh
  • Teamwork; yaitu kemampuan untuk bekerjasama dalam sebuah tim Di dalam era global yang ditandai dengan ampuhnya Internet dan membludaknya informasi, pustakawan seharusnya tidak lagi bekerja sendiri. Mereka harus membentuk team kerja untuk bekerjasama mengelola informasi. Choo yang dikutip Astroza dan Sequeira (2000) mengatakan bahwa perubahan teknologi menawarkan kesempatan unik untuk bekerjasama lintas disiplin dengan profesional lainnya :
    • pakar komputer yang bertanggung jawab pada pusat computer
    • pakar teknologi yang bertanggung jawab pada infrastruktur teknologi, jaringan dan aplikasi
    • pakar informasi (pustakawan) yang mempunyai kemampuan dan pengalaman untuk mengorganisasi pengetahuan dalam sistem dan struktur yang memfalisitasi penggunaan sumber informasi dan pengetahuan.

Diharapkan dengan team work, tekanan di era industri informasi dapat dipecahkan. Menurut Astroza dan Sequeira (2000) perubahan teknologi dan perkembangan industri informasi berdampak luas pada profesional informasi : pustakawan, arsiparis, penerbit. Profesi ini menghadapi 2 tekanan komplementer, yaitu :

  • perkembangan jumlah informasi dan tersedianya teknologi baru, memungkinkan untuk akses dan memproses informasi lebih besar dari lima tahun yang lalu.
  • harapan pengguna yang terus meningkat dapat menciptakan kebutuhan jasa informasi yang kualitasnya lebih canggih.
  1. Enterpreneurship

Sudah waktunya bagi pustakawan untuk berpikir kewirausahaan. Informasi adalah kekuatan. Informasi adalah mahal, maka seyogyanya pustakawan harus sudah mulai berwawasan enterpreneurship agar dalam perjalanan sejarahnya nanti dapat bertahan. Lebih­lebih di era otonomi, maka perpustakaan secara perlahan harus menjadi income generation unit. Memang sudah ada pustakawan yang berwawasan bisnis, tapi masih belum semuanya. Paradigma lama bahwa perpustakaan hanya pemberi jasa yang notabene tidak memiliki uang harus segera ditinggalkan.

  1. Management & Leadership skills
  • Administrasi (Administration); mampu membuat sistem administrasi yang baik bagi berbagai kegiatan yang dilakukan.
  • Manajemen perubahan(Change management); mampu mengatur berbagai kemungkinan yang bisa timbul dari suatu perubahan.
  • Mampu mennciptakan peran baru dengn menilai perubahan dalan lingkungan dan memposisikan diri mereka.
  • Decision making, selaku manajer perpustakaan, ia harus mampu membuat keputusan dalam menghadapi setiap permasalahan di perpustakaan.
  • Kepemimpinan; mempunyai karakter kepemimpinan yang menonjol
  • Pengukuran; mampu melakukan pengukuran kinerja dan dampaknya terhadap layanan perpustakaan.
  • Manajemen proyek. Mampu memimpin dan mengatur sebuah proyek.
  • Manajemen sumber daya manusia
  • Melakukan kordinasi dengan bagian terkait
  • Pelatihan dan sumberdaya manusia. Mampu menganalisa skill yang dibutuhkan dan memberikan pelatihan yang dibutuhkan.
  • Mampu melakukan perencanaan­perencanaan strategis dan implemantasinya.
  1. Social & commmunity skills
  • Animating and information culture. Pustakawan mampu mengikuti perkembangan budaya informasi yang semakin berkembang pesat, mahir dalam pengelolaan informasi, baik tercetak maupun digital , mengemas ulang informasi, serta literat terhadap informasi.
  • Pustakawan harus mampu melakukan kolaborasi antar pustakawan dalam   memecahkan   masalah­masalah   perpustakaan,   seperti   menerbitkan   buku panduan untuk pustakawan, mengadakan pelatihan, seminar, kursus penyegaran, melakukan penelitian dibidang ilmu perpustakaan dan sebagainya.
  • Community building. Kemampuan untuk membangun komunitas perpustakaan untuk saling berbagi informasi (resource sharing) dibidang perpustakaan.
  • Establishing professional, collegial relationships with colleagues. Mampu menjalankan profesionalitasnya dengan menjalin hubungan baik dengan koleganya.
  • Knowing the community and helping it to grow. Pustakawan perlu mengenal komunitasnya dan membantunya untuk tumbuh.
  • Mediator of culture. Pada intinya, seorang pustakawan harus banyak memiliki perbendaharaan kata, mengusai berbagai informasi dari aktivitas membaca. Seorang pustakawan berarti secara tidak langsung mempunyai beban tanggung jawab untuk menentukan sebuah bangsa yang maju dan beradab. Ini artinya secara garis besar pustakawan harus mengupayakan terciptanya sebuah budaya baca dalam suatu bangsa. Karena ketika dalam suatu masyarakat pola budaya baca dapat tercipta kemudian terpelihara dengan baik, maka dapat dipastikan bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang tanggap dalam perubahan ke arah yang lebih maju .
  • Networking, pustakawan harus membangun jaringan perpustakaan (library networking). yaitu kumpulan perpustakaan yang melayani sejumlah badan, instansi, atau lembaga atau melayani berbagai instansi yang berada di bawah wilayah hukum tertentu (yuridiksi) dan memberikan sejumlah jasa sesuai dengan rencana terpadu untuk mencapai tujuan bersama. Networking sangat penting untuk membangun koneksi dalam sebuah organisasi. Jika kita tidak mengetahui sesuatu maka hal yang penting adalah kita mengetahui siapa yang dapat membantu kita.
  1. Attitude & personal traits
  • Adaptable, respond rapidly to changing situations, affective and metocognitive skills to prepare for change, flexibixibility and willingness to fit the changing needs of the organizations. (mampu beradaptasi, merespon secara cepat dalam perubahan situasi, afektif dan metokognitif dalam mempersiapkan perubahan, fleksibilitas dengan kebutuhan organisasi)
  • Aproachability (memiliki pendekatan)
  • Asssertiveness (ketegasan)
  • Good attitude for work (memiliki tingkah laku yang baik dalam bekerja)
  • Emotional inttelligents (memiliki EQ yang baik)
  • Enquiring mind
  • Antusiasm
  • Indepen
  • Ability to accept pressure (kemampuan untuk menerima tekanan)
  • dence (kemandirian)
  • Inovativeness,   memiliki   kemampuan   inovatif   dalam   menciptakan   ide­ide   dan penemuan baru.
  • Lifelong learning, acquiring new knowledge and skill continuously (pembelajaran seumur hidup, tidak hanya melalui sarana informal tapi juga informal, serata menerima pengetahuan dan kemampuan baru secara berkelanjutan.)
  • Motivation, yaitu mampu membangun tim dan memotivasi orang lain
  • Nurture and satisfying personal life (memelihara dan kehidupan pribadi yang memuaskan)Professional attitude (bertingkahlaku profesional)
  • Self confidence, good self image (percaya diri, image diri yang baik)
  • Sense of humor (memiliki selera humor yang baik)
  • Style of working (memiliki gaya dalam bekerja)
  • User orientation, custumer focus (berorientasi pada pengguna)
  • Ability to work within different culture (kemampuan bekerja didalam budaya yang berbeda)

PROFESI YANG SESUAI DENGAN LULUSAN ILMU PERPUSTAKAAN

  1. Creative Project Manager (Manajer Proyek Kreatif)
  2. Director of Community Service (Direktur Pelayanan Masyarakat)
  3. Web Analytics Manager
  4. Information Resources Specialist (Spesialis Sumber Daya Informasi)
  5. Technical Information Specialist (Spesialis Teknikal Informasi)
  6. Documentation Specialist (Spesialis Dokumentasi)
  7. GIS (Geographic Information System) Map Specialist
  8. Digital Reference Librarian (Pustakawan Layanan Referensi Digital)
  9. Curator, Media Resource Center
  10. Archival Consultant (konsultan Arsip)
  11. Director of Emerging Technologies and Community Services
  12. Architecture Library Assistant (Asisten Perpustakaan Arsitektur)
  13. Research Lead (pemimpin Penelitian)
  14. Discovery Metadata Librarian
  15. Teaching and Services Learning Coordinator
  16. Acquisitions Team Lead (Pemimpin Akuisisi Tim)
  17. Head of Learning Resources Center
  18. Freelance Researcher
  19. Head of Access Services
  20. Associate Archivist for Digital Initiatives and Records Management
  21. Automation Coordinator
  22. Associate Director, Technical Services
  23. Associate Head, Content Acquisitions and Licensing
  24. Archivist
  25. Manager, Information Services
  26. Head of Information and Research Services
  27. Business Research
  28. Metadata Analyst
  29. Metadata Specialist
  30. University Archivist/Professor
  31. Document Control Specialist and Archivist
  32. Digital Manuscripts Project Manager
  33. Library Digital Infrastructure and Technology Coordinator
  34. Data Officer
  35. Digital Services Manager
  36. Assistant Visual Resource Manager at the Metropolitan Museum of Art
  37. Site Manager for library software company Polaris
  38. Digital Archives Systems Administrator
  39. Web Project Manager
  40. Records Management Manager for a law firm
  41. Records and Information Manager for the Federal Trade Commission
  42. Data Management Analyst
  43. Information Management Officer
  44. Senior Business Intelligence/Technical Analyst
  45. Archives Technician
  46. Web Archivist
  47. Electronic Resourcing Specialist
  48. Intelligence Associate
  49. Information Research Specialist
  50. Business Information Specialist
  51. Research Coordinator
  52. Assistant Director for User and Research Services
  53. Member Data Manager for a professional organization
  54. Database Administrator/Programmer
  55. Department Head, Music, Film, and Audio
  56. Technology Coordinator
  57. Librarian Relations Manager for Thompson Reuters
  58. Wine Librarian
  59. An international librarian like this posting at a university in Kasakhstan
  60. Sound FX Librarian for LucasFilms
  61. Clinical Informatics Librarian

Sumber:

http://celotehaziz.blogdetik.com/files/2011/02/hak-akses-informasi-dan-peran-pustakawan-di-era-digitalisasi.pdf

https://www.academia.edu/4808602/PENERAPAN_SOFT_SKILL_BAGI_PUSTAKAWAN_DALAM_MENINGKATKAN_MUTU_PERPUSTAKAAN_OLEH_JAZIMATUL_HUSNA_ARBA_i

http://eprints.rclis.org/8878/1/peran-pustakawan-impian-dan-kenyataan-06-2000.pdf

http://infospace.ischool.syr.edu/2011/12/23/61-non-librarian-jobs-for-librarians/

Iklan
By kerajaan perpustakaan Posted in tugas Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s