Pustakawan Bukanlah Ahli Gudang

Pustakawan Bukanlah Ahli Gudang

Pustakawan adalah seseorang yang telah menempuh pendidikan atau mengikuti pelatihan di bidang kepustakawanan. Pengertian pustakawan dalam hal ini adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1).

Ahli gudang adalah seseorang yang bertugas menjaga dan mengelola semua isi di dalam gudang. Sangat ironis sekali jika pustakawan harus disamakan dengan ahli gudang. Pustakawan adalah sebuah profesi yang berhubungan dengan pengelolaan ilmu pengetahuan dan akan sangat memprihatinkan ketika sebuah profesi yang berkaitan dengan managemen ilmu pengetahuan ini di klaim sama dengan ahli gudang.

Kedua hal ini memang sedikit ada persamaan, sama-sama membutuhkan ketelitian dan ketekunan. Jangan pikirkan bahwa menjadi gudang merupakan hal yang mudah, seseorang harus mengecek kondisi barang, membuat statistic berapa jumlah barang yang masuk dan keluar, dan masih ada sederetan kegiatan yang harus di lakukan oleh seorang ahli gudang. Begitu juga dengan pustakawan, seorang pustakawan harus mengelola seluruh isi perpustakaan mulai dari desain ruangan, tata letak rak, buku dan lain-lain.

Namun tidak berhenti pada itu saja. Untuk menjadi ahli gudang seseorang tidak harus direpotkan dengan riwayat pendidikan atau ijazah sekolah, apalagi sampai tingkat perguruan tinggi, yang dibutuhkan hanya ketekunan dan penelitian dalam bekerja. jika kita seorang pustakawan atau calon pustakawan yang telah menempuh pendidikan formal maupun non formal di bidang ilmu perpustakaan, dan dengan image pengelola sumber-sumber informasi apakah harus “RELA dan PASRAH” ketika profesi tersebut di samakan dengan ahli gudang yang tidak memiliki latar pendidikan di bidang pengelola ilmu pengetahuan bahkan tidak memiliki latar pendidikan sekalipun.

Semua jawaban ada pada diri anda sendiri, jika klaim tersebut tidak mau menempel pada anda maka hal yang harus dilakukan adalah mengubah cara berfikir lama pada hal yang baru. Dengan mengubah pola pikir tentunya akan sangat berpengaruh pada sesuatu yang akan dilakukan, khususnya untuk profesi pustakawan. Pustakawan tidak hanya menjaga dan mengelola buku saja namun dituntuk untuk lebih ke arah bagaimana memproduksi, mengemas dan menyajikan informasi-informasi yang berkualitas kepada user sehingga tujuan perpustakaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak hanya menjadi wacana publik.

Selain hal tersebut pustakawan juga harus pandai melihat peluang dalam memasarkan produknya (koleksi, informasi, layanan, dan SDM). sehingga produk-produk tersebut bisa sampai pada sasaran yang tepat dan sesuai target (visi-misi perpustakaan). Jika pustakawan benar-benar ingin dihargai sebagai profesi maka pustakawan harus bisa merubah pola pikirnya dan menunjukan kemampuanya dalam memproduksi dan mengelola sumber-sumber informasi yang ada serta mampu memaksimalkan kemajuan TI.

Skill yang di butuhkan pustakawan masa kini:

Pendekatan persuasife: pustakawan di harapkan mampu mempengaruhi user untuk membaca sumber-sumber informasi yang tepat sesuai kebutuhanya, sehingga ketika user keluar dari perpustakaan benar-benar mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Knowledge Management: pustakawan mampu memproduksi, mengelola, dan menyebarluaskan informasi secara luas. Dalam hal ini pustakawan dituntut untuk melakukan inovasi-inovasi baru dalam mengahadapi tuntutan zaman yang semakin maju.

Selektif: pustakawan harus mampu meyeleksi/memilah-milah antara sumber informasi yang berkualitas dengan sampah-sampah informasi, bertujuan untuk menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan user. Namun untuk saat ini pustakawan dituntut untuk memiliki kemampuan lebih, karena pada era ledakan informasi seperti sekarang ini perkembangan dunia informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Selektor harus mampu memetakan informasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan user.

Elastis: maksudnya seorang pustakawan untuk saat ini harus mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi, sehingga seiring dengan kemajuan teknologi informasi pustakawan mampu memanfaatkannya sebagai sebuah kekuatan besar untuk pemberdayaan informasi.

Sumber: Duniaperpustakaan.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s