Budaya Baca di Jepang: Perpustakaan Selalu Penuh Saat Akhir Pekan dan Liburan

Di Jepang, berdasarkan pengalaman banyak blogger yang menuliskan ceritanya terkait pengalaman mereka ke perpustakaan, hampir rata-rata perpustakaan di Jepang penuh pengunjung.

Hal ini juga yang diceritakan oleh Nesia Andriana yang ditulis melalui purezentos.com.

Dalam tulisan tersebut dirinya bercerita jika pada hari dirinya ke perpustakaan di salah satu perpustakaan di Jepang yang merasa terheran-heran karena pada jam  10.45 pagi ternyata tempat duduk di perpustakaan tersebut sudah penuh.

Dirinya baru tahu jika ternyata jika di akhir pekan seperti hari Sabtu sekitar pukul 10.45 merupakan waktu yang sudah berkategori telat untuk mendapatkan meja khusus untuk memakai komputer di perpustakaan kota Fujisawa.

Bukan hanya sulit mendapatkan meja khusus tersebut, hampir semua tempat duduk untuk membaca buku, juga sudah penuh. Perasaan apa yang kemudian timbul dari pemandangan ini? Cemburu. Cemburu dengan gairah belajar orang-orang di kota kecil ini. Cemburu melihat mereka gemar ke perpustakaan. 

Saya tidak tahu apakah secuil kelompok pecinta perpustakaan ini bisa mewakili warna masyarakat Jepang umumnya. Apakah melihat fenomena penuhnya ruang belajar di hari libur yang cerah dan hangat ini, membolehkan saya untuk menggeneralisir Jepang keseluruhannya : sangat rajin belajar?

Saya tidak tahu, karena sampai sekarang ini baru sekitar empat perpustakaan yang pernah saya kunjungi. Satu perpustakaan di Arima-ku Kawasaki, satu di Universitas Teknologi Tokyo, satu lagi masih di kawasan Fujisawa, dekat Stasiun Zengyou, dan yang terakhir perpustakaan pusat milik propinsi, di Yokohama.

Dari cerita teman-teman yang tinggal di kota lain di seantero Jepang, perpustakaan memang sudah menjadi bagian dari ”tempat rekreasi keluarga” di akhir pekan!   

Perpustakaan kota Fujisawa memang relatif cukup kecil, dan itu juga mungkin sebabnya terasa selalu penuh. Dibandingkan dengan perpustakaan provinsi yang ada di Yokohama, perpustakaan ini kira-kira hanya seperlimanya.

Gedung perpustakaan ini hanya dua lantai, dengan luas yang saya bisa kelilingi dalam waktu sekitar satu atau dua menit. Sedangkan gedung perpustakaan pusat di Yokohama, yang lokasinya berdekatan dengan Kebun Binatang Negoyama, ada sekitar tujuh tingkat, dengan luas yang kira-kira dua atau tiga kali lipatnya perpustakaan ini.

Seingat saya, salah satu lantainya diperuntukkan khusus audio-visual, dari koleksi film, lagu, rekaman berita televisi, hingga ke peralatan untuk melihat atau mendengarkannya langsung di tempat. Bayangkan, perpustakaan 7 lantai!  

Tapi memang begitulah fasilitas perpustakaan yang dikelola pemerintah kota praja dan provinsi di Jepang. Perpustakaan dibangun dengan mewah dengan fasilitas yang lengkap, yang tentu saja antara lain dibiayai oleh pajak yang dibayar penduduk.  

Ada beberapa hal yang menurut saya membuat perpustakan di Jepang selalu penuh. Selain karena minat baca yang tinggi dan fasilitas perpustakaan yang lengkap dan nyaman, orang-orang Jepang senang beraktivitas di luar karena rumah yang mereka miliki sempit.

Ya, di Jepang, khususnya di kota besar seperti Tokyo, ukuran rumah sangat kecil. Mampu menyewa rumah ukuran 60 meter persegi saja sudah merupakan kemewahan bagi sebagian orang.  

Tapi mari kita lihat data-data dari Asosiasi Perpustakaan Jepang untuk menjawab pertanyaan ini secara lebih tegas. Perpustakaan yang disebut ”toshokan” dalam bahasa Jepang adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat.

Di setiap kota yang populasinya di atas 50 ribu jiwa pasti ada perpustakaan umum. Seiring dengan meluasnya teknologi informasi layanan katalog online pun makin meluas di perpustakaan di kota dan desa.  

Perpustakaan pertama di Jepang dibuka pada sekitar tahun 1872 setelah budaya Barat diperkenalkan pertama kali di Jepang. Asosiasi Perpustakaan Jepang didirikan tahun 1892 untuk mempromosikan layanan perpustakaan.  
Setelah Perang Dunia II, sebuah UU Perpustakaan disahkan pada tahun 1950 berdasarkan konstitusi Jepang. UU ini mengatur bahwa perpustakaan umum dibiayai oleh pajak, harus gratis dan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat sekitarnya.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Jepang sejak tahun 1960an, perpustakaan pun memasuki masa perkembangan yang sangat pesat, dalam jumlah dan mutu layanannya. 

Terdapat hampir 3.000 perpustakaan umum dan lebih dari 7.200 perpustakaan professional di negeri ini. Jumlah ini termasuk 63 perpustakaan tingkat provinsi, 1.636 perpustakaan kota dan 1.033 perpustakaan kota kecil. Setiap tahun tercatat 550 juta buku yang dpinjam masyarakat! Jadi rata-rata 4,5 buku yang dipinjam setiap penduduk di Jepang.  

Nah, perpustakaan di kota tempat tinggal saya, Fujisawa adalah salah satu dari perpustakaan yang tercatat dalam data resmi di atas. Perpustakaan kota kecil yang selalu penuh, khususnya di akhir pekan.  

Mengapa perpustakaan selalu penuh?

Saya yakin, karena sejak kecil anak-anak di Jepang dididik untuk mencintai buku, bukan sekadar membacanya! Dan tentu saja karena pemerintah mendukung habis-habisan ketersediaan perpustakaan yang gratis, nyaman dan lengkap!

Sebuah bukti dan gambaran bahwa Budaya Baca di Jepang bisa sanghat tinggi karena dukungan semua pihak. Tidak hanya dukungan orang tua dan sekolah, tapi pemerintahanya juga sangat peduli dengan membangun fasilitas-fasilitas perpustakaan dengan fasilitas yang sangat nyaman.

Sumber: Duniaperpustakaan.com

Iklan
By kerajaan perpustakaan Posted in Artikel Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s